Di dunia ini, ada banyak hal yang sering dianggap sebagai harta berharga—uang, emas, tanah, jabatan, atau barang-barang mewah yang bisa dibeli dengan kekayaan. Namun bagiku semua itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan satu hal yang tak ternilai harganya, yang tidak bisa dibeli dengan apapun, tidak bisa ditukar dengan apapun, dan tidak akan pernah tergantikan selamanya: yaitu mamaku tercinta satu-satunya yang aku miliki.
(10/6/2026).
Mama adalah awal dari segala keberadaanku. Beliau yang telah mengandungku selama sembilan bulan Sepuluh hari dengan penuh pengorbanan, merasakan lelah, sakit, dan ketidaknyamanan demi memberikan aku kesempatan untuk hidup di dunia ini. Ketika aku lahir, beliau adalah orang pertama yang menyambutku dengan cinta yang tulus, tanpa pamrih sedikitpun. Sejak aku masih kecil hingga aku tumbuh dewasa, tangan beliau selalu terulur untuk menopang langkahku, mengusap air mataku ketika aku sedih, dan memberikan semangat ketika aku merasa lemah dan putus asa.
Harta yang dimiliki orang lain bisa habis, bisa hilang, atau bisa berkurang seiring berjalannya waktu. Tapi kasih sayang mama tidak akan pernah berkurang, tidak akan pernah pudar meski waktu terus berjalan dan usia semakin bertambah. Beliau adalah tempat pulang yang paling nyaman, tempat di mana aku bisa bercerita apa saja tanpa takut dihakimi, tempat di mana aku selalu diterima apa adanya—baik ketika aku berhasil maupun ketika aku jatuh dan gagal.
Doa-doa mama adalah berkah yang menyertai setiap langkah hidupku. Beliau selalu mendoakan yang terbaik untukku, bahkan ketika aku mungkin tidak menyadari hal itu. Di saat aku merasa sendirian, di saat aku menghadapi kesulitan yang terasa berat, aku tahu bahwa ada hati yang selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaanku. Itulah kekuatan terbesarku, yang tidak bisa diberikan oleh apapun juga.
Mama adalah satu-satunya. Tidak ada orang lain di dunia ini yang bisa menggantikan posisinya. Tidak ada harta, tidak ada jabatan, dan tidak ada apapun yang bisa menandingi nilai seorang ibu. Karena itulah, bagiku, hartaku yang paling berharga bukanlah yang terlihat dan bisa dihitung, melainkan sosok mama—kasih sayangnya, pengorbanannya, doanya, dan kehadirannya yang menjadi sumber kekuatan seumur hidupku.
Aku sadar bahwa waktu terus berjalan, dan kesempatan untuk membahagiakan beliau tidak akan selamanya ada. Oleh karena itu, aku akan selalu menjaga, menyayangi, dan berbakti kepadanya selagi masih ada kesempatan. Karena bagiku, memiliki mama yang sehat, bahagia, dan selalu ada di sisiku adalah anugerah terindah dan harta terbesar yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun juga selamanya.
(Abdul Salim)
