OPERA PASIR: MEREKAM INGATAN DI TANAH ABRASI PANTAI MERDEKA BAGAN KUALA BERSAMA UNIMED

Di tengah hamparan pantai yang perlahan berubah bentuk akibat gelombang laut dan proses abrasi, hadir sebuah karya seni budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan sejarah tempat tinggalnya. Berjudul “Opera Pasir: Merekam Ingatan di Tanah Abrasi Pantai Merdeka Bagan Kuala”, pertunjukan ini diselenggarakan dalam kolaborasi erat antara masyarakat setempat dan Universitas Negeri Medan (UNIMED), menjadi wujud nyata penggabungan antara seni, ilmu pengetahuan, dan pelestarian memori kolektif.


Kepala desa bagan kuala Safril menyampaikan Kegiatan Sore hari ini Bekerja sama dengan Unimed , dosen, mahasiswa dan mahasiswi Bahwa sanya kita membuat Kegiatan Sesuatu Opera Pasir , Tentang Bagaimana Kondisi desa Bagan Kuala Semoga ada kepedulian Pihak Masarakat dan Pemerintah dalam menangani Obrasi Penomena alam Dengan kondisi 

di desa bagan kuala, Telah ada Wisata Yang Perlu Di Kunjungi Dan Dimintai Oleh Masarakat luas, ini langsung di kelolah Pihak dari Unimed Tentang kegiatan pada tanggal 

Minggu (28/6/2026)

Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan Pantai Merdeka, Desa Bagan Kuala, kecamatan Tanjung beringin Kabupaten Serdang Bedagai propinsi Sumatera Utara, sebuah wilayah yang selama beberapa dekade terakhir menghadapi tantangan serius akibat abrasi pantai. Sebagian daratan yang dulunya menjadi tempat bermukim, bercocok tanam, dan melangsungkan kehidupan sosial perlahan tergerus air laut, sehingga menghapus secara fisik jejak-jejak sejarah dan kenangan yang telah dibangun oleh generasi terdahulu. Dari latar belakang inilah, gagasan untuk mengangkatnya dalam bentuk pertunjukan seni lahir, dengan tujuan agar ingatan akan tanah leluhur tidak ikut hilang terbawa ombak.

Peran UNIMED dalam kegiatan ini sangat strategis dan menyeluruh. Tim yang terdiri dari dosen, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai bidang ilmu—seperti pendidikan seni, geografi, lingkungan hidup, dan sosiologi telah melakukan kajian mendalam terlebih dahulu. Mereka turun langsung ke lapangan untuk mendengarkan cerita-cerita lisan dari warga tua, mendokumentasikan perubahan bentuk garis pantai selama puluhan tahun, serta mempelajari dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan oleh abrasi. Hasil penelitian dan wawancara tersebut kemudian diolah menjadi naskah cerita yang menjadi inti dari pertunjukan Opera Pasir ini.

Pertunjukan Opera Pasir menggunakan media dan properti yang sederhana namun penuh makna, yang sebagian besar diambil dari alam sekitar: pasir pantai, kayu apung, daun-daunan, dan kain-kain berwarna yang melambangkan laut, daratan, serta harapan. 

Para pemerannya pun tidak hanya berasal dari kalangan seniman, tetapi juga melibatkan warga masyarakat Bagan Kuala sendiri, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Keterlibatan langsung ini membuat setiap adegan yang dipentaskan terasa lebih hidup, tulus, dan menyentuh hati, karena mereka membawakan kisah yang benar-benar dialami dan dirasakan sehari-hari.

Dalam alur ceritanya, Opera Pasir menggambarkan masa-masa keemasan Pantai Merdeka yang subur, aman, dan menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar, lalu berlanjut pada masa-masa sulit ketika ombak mulai mendekat, rumah-rumah harus dipindahkan, dan ladang-ladang hilang tertimbun air. Namun, pertunjukan ini tidak berakhir pada kesedihan semata. Sebaliknya, ia mengangkat semangat ketangguhan masyarakat yang terus beradaptasi, mencari solusi, dan tetap menjaga rasa cinta terhadap tanah kelahirannya. Di sinilah pesan utamanya tersampaikan: meskipun tanah berubah dan bentuknya bergeser, ingatan, nilai-nilai budaya, serta persatuan masyarakat tetap abadi.

 

Selain sebagai pertunjukan seni, kegiatan ini juga berfungsi sebagai media edukasi dan kesadaran lingkungan. Melalui Opera Pasir, diharapkan warga dan pengunjung dapat lebih memahami proses abrasi, faktor penyebabnya, serta pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kerja sama dengan UNIMED juga membuka jalan bagi program-program lanjutan, seperti pemantauan lingkungan secara berkala, penyuluhan tentang mitigasi bencana, serta upaya pelestarian garis pantai yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Bagi masyarakat Bagan Kuala, kehadiran Opera Pasir bersama UNIMED menjadi momen yang berharga. Ini bukan sekadar pementasan, melainkan cara baru untuk “menyimpan” sejarah dan kenangan agar dapat diwariskan kepada anak cucu. Ketika tanah fisiknya perlahan berkurang, maka ingatan yang tertuang dalam seni dan cerita akan menjadi “tanah rohani” yang tetap kokoh sebagai identitas mereka.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, terjalin pula jembatan yang kuat antara dunia pendidikan tinggi dan masyarakat. UNIMED tidak hanya hadir sebagai pengamat atau peneliti semata, tetapi menjadi mitra yang ikut serta dalam melestarikan budaya, menjawab permasalahan lingkungan, dan membangun ketahanan sosial di wilayah pesisir. Semoga karya ini menjadi awal dari langkah-langkah positif berikutnya, sehingga Pantai Merdeka Bagan Kuala tetap dikenang, dijaga, dan dirawat keberadaannya untuk masa depan yang lebih baik.

 (Abdul Salim)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak