Kongsi Benih Merawat Syukur, Menyemai Harmoni, Ritual tepung tawar penolak bala



Deli Serdang.

Kongsi Benih merupakan garapan seni pertunjukan baru yang ditampilkan dalam Kongsi Festival 2026 pada 26 April 2026 di Desa Budaya Denai Lama, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Karya ini lahir dari upaya membaca kembali tradisi Tepung Tawar Benih sebagai ruang budaya yang tidak hanya menyimpan nilai spiritual, tetapi juga menjadi titik temu berbagai latar kebudayaan yang hidup berdampingan di tengah masyarakat. Jumat (2/10/2026).

Berangkat dari ritual tepung tawar dan tolak bala, Kongsi Benih mengangkat sebuah pesan sederhana namun mendalam: bahwa kehidupan adalah anugerah yang patut disyukuri, rezeki adalah limpahan yang perlu dirawat, dan keselamatan merupakan doa yang senantiasa dipanjatkan manusia kepada Sang Pencipta. Benih menjadi simbol utama sebagai awal kehidupan, harapan, keberlanjutan, sekaligus titipan masa depan.

Dalam tradisi Melayu, tepung tawar merupakan ungkapan doa dan harapan atas keselamatan, keberkahan, serta kesejahteraan. Dalam garapan ini, makna tersebut diperluas menjadi sebuah perjumpaan budaya. Benih tidak hanya dimaknai sebagai benih tanaman, tetapi juga sebagai benih persaudaraan, benih kebersamaan, dan benih kebudayaan.

Kongsi Benih mempertemukan tiga unsur kebudayaan yang hidup dan berkembang bersama di ruang sosial masyarakat, yaitu Melayu, Jawa, dan Tionghoa. Ketiganya tidak ditempatkan sebagai identitas yang berdiri sendiri, melainkan dipertemukan dalam sebuah ruang dialog yang saling menghargai. Perbedaan bahasa, simbol, gerak, bunyi, dan ekspresi budaya menjadi bagian dari satu perjalanan artistik menuju harmoni.

Ritual tepung tawar menjadi titik awal perjalanan karya. Gerak-gerak simbolik menghadirkan suasana doa, penghormatan, dan rasa syukur. Unsur Tolak Bala kemudian hadir sebagai representasi ikhtiar manusia dalam memohon perlindungan dari segala bentuk marabahaya. Dari suasana ritual yang sakral, karya berkembang menuju suasana perjumpaan dan perayaan—sebuah gambaran bahwa ritual budaya juga menjadi ruang untuk bertemu, berkumpul, berbagi, dan mempererat silaturahmi.

Secara artistik, 

Kongsi Benih merupakan garapan baru yang sengaja dirancang dengan pendekatan kreatif dan inovatif. Karya ini tidak berupaya memindahkan ritual ke atas panggung secara utuh, tetapi melakukan proses interpretasi terhadap nilai, simbol, suasana, dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Kesenian lokal kemudian diolah melalui bahasa pertunjukan yang lebih kontekstual dengan perkembangan zaman, memadukan kekuatan tradisi dengan pendekatan koreografi, musik, tata artistik, serta bentuk penyajian yang lebih modern dan kekinian.

Dalam perjalanan karya, benih menjadi metafora bagi kebudayaan itu sendiri. Sebagaimana benih membutuhkan tanah, air, cahaya, dan perawatan untuk tumbuh, kebudayaan juga membutuhkan ruang, manusia, dialog, dan keberlanjutan agar tetap hidup. Dari satu benih dapat tumbuh kehidupan; dari satu perjumpaan dapat tumbuh persaudaraan; dan dari satu kebudayaan dapat lahir berbagai kemungkinan baru.

Kongsi Benih pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan tentang sebuah ritual. Ia adalah cerita tentang bagaimana manusia bersyukur, berdoa, bertemu, dan hidup bersama dalam keberagaman. Melayu, Jawa, dan Tionghoa dipertemukan bukan untuk menghilangkan perbedaan, tetapi untuk menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika dirawat dalam ruang kebersamaan.

Melalui semangat Kongsi” berbagi, berjumpa, dan merawat kebersamaan, karya ini ingin menyampaikan bahwa harmoni tidak lahir karena semua orang menjadi sama. Harmoni tumbuh ketika setiap identitas diberi ruang untuk hadir, saling mengenal, saling menghormati, dan saling menguatkan.

Kongsi Benih adalah benih yang ditanam melalui seni: benih syukur, benih persaudaraan, benih keberagaman, dan benih masa depan kebudayaan.

Kegiatan ini di dukung penuh oleh kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam skema hibah Pendanaan Program Dana Indonesia Katagori Pendayagunaan Ruang Publik tahun 2025/2026.

Dari tradisi kita belajar mengingat.Dari perjumpaan kita belajar memahami.Dari keberagaman kita belajar hidup bersama.Dan dari sebuah benih, kita menanam harapan untuk tumbuh bersama.

(Abdul salim)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak