Pembuatan Jala Karya Mbah Andri kampung dalam

 


Di sudut halaman rumahnya yang teduh, di tengah suasana dusun 2 Desa seibamban kecamatan seibamban kabupaten Serdang Bedagai yang tenang, tampak Mbah Andri duduk bersila dengan tenang. Di hadapannya terbentang beragam alat dan bahan yang telah disiapkan rapi, siap diolah menjadi jala tangkap ikan yang kuat dan rapi. Sudah lebih dari empat puluh tahun ia menekuni pekerjaan ini, mewarisi keterampilan dari orang tuanya, dan hingga kini tetap setia membuat jala dengan cara tradisional, meskipun banyak peralatan modern telah bermunculan. Baginya, membuat jala bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari hidupnya dan warisan budaya yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Senin 27 April 2026

Sebelum mulai menenun, Mbah Andri selalu mempersiapkan segala sesuatu dengan teliti. Bahan utamanya adalah senar nilon yang kuat dan lentur, dipilih dengan cermat agar tidak mudah putus saat digunakan di tengah laut. Selain itu, tersedia pula alat-alat sederhana namun sangat berharga baginya: coban atau jarum anyam yang terbuat dari kayu keras, seleran untuk mengatur ukuran lubang jala agar seragam, gunting kecil, serta timah atau rantai besi yang akan dipasang di bagian tepi sebagai pemberat. Semua barang ini ia rawat dengan baik, karena menurutnya kualitas alat sangat menentukan hasil akhir dari jala yang dibuat.

Proses pembuatan dimulai dengan membuat bagian pusat atau yang biasa disebut pusar jala. Di sini ketelitian menjadi hal terpenting. Mbah Andri mengikat simpul demi simpul dengan gerakan tangan yang sudah terlatih, cepat namun tetap rapi. Setiap simpul diikat dengan kuat agar tidak lepas saat jala ditarik atau terkena hambatan di dalam air. Ia selalu memastikan ukuran setiap lubang jala sama besarnya, karena jika ada yang berbeda, jala tidak akan melebar sempurna saat dilemparkan dan hasil tangkapan pun tidak akan maksimal. Bagian ini memakan waktu berhari-hari, namun ia tidak pernah tergesa-gesa. Baginya, ketelatenan adalah kunci agar jala yang dibuatnya dapat digunakan bertahun-tahun lamanya.



Setelah bagian pusat selesai, pekerjaan dilanjutkan dengan memperluas jala secara bertahap. Di sinilah dibutuhkan perhitungan dan pengalaman yang mendalam. Pada setiap putaran anyaman, ia menambah jumlah lubang dengan aturan tertentu, sehingga bentuk jala akhirnya menjadi bulat sempurna seperti payung yang mekar. Gerakan tangannya tampak luwes dan teratur, seolah-olah sedang menari mengikuti irama yang hanya ia yang tahu. Sambil bekerja, ia sesekali berhenti sejenak untuk memeriksa kembali kekuatan simpul dan kerapatan anyaman, memastikan tidak ada bagian yang lemah atau kurang rapi. "Jala yang baik bukan hanya terlihat bagus, tapi juga kuat menahan tarikan ikan dan hempasan ombak," ujarnya dengan suara lembut namun penuh keyakinan.

Ketika bagian anyaman jaring selesai, proses belum berakhir. Langkah selanjutnya adalah memasang bagian-bagian pendukung. Di bagian tepi bawah diikatkan rantai timah yang berfungsi sebagai pemberat, agar jala cepat tenggelam dan menutup rapat saat diangkat. Sementara di bagian atas dipasang tali pengikat yang panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan pemakai, lengkap dengan pegangan yang kuat. Setiap bagian diikat dengan simpul khusus yang sudah menjadi rahasia turun-temurun keluarganya, sehingga dijamin tidak akan lepas meskipun terkena tekanan yang cukup berat.

Membuat satu buah jala ukuran sedang memakan waktu sekitar dua minggu, sedangkan untuk ukuran besar bisa memakan waktu hingga sebulan lebih. Selama itu, hampir setiap hari Mbah Andri menghabiskan waktunya untuk menenun, bahkan terkadang hingga larut malam jika cuaca sedang mendukung. Ia tidak pernah mengeluh dengan lamanya waktu yang dibutuhkan, karena ia sadar bahwa kualitas tidak bisa dipaksakan. Banyak nelayan dari berbagai daerah yang datang memesan jala buatannya, karena sudah dikenal kuat, awet, dan hasil tangkapannya selalu melimpah. Bagi mereka, memiliki jala buatan Mbah Andri adalah kebanggaan tersendiri.


Kini, di usianya yang sudah lanjut, Mbah Andri berharap ada generasi muda yang mau belajar dan melanjutkan keterampilan ini. Ia sering mengajari anak muda di desanya yang berminat, mengajarkan setiap langkah dan rahasia yang ia miliki selama puluhan tahun. Baginya, ilmu ini tidak boleh mati bersamanya, tetapi harus terus diwariskan agar tetap ada dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat pesisir. Melalui setiap jala yang dibuatnya, ia tidak hanya menciptakan alat tangkap ikan, tetapi juga menenun harapan dan melestarikan warisan budaya yang tak ternilai harganya.

(Abdul Salim)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak