Warung pecal ibu riani Sukatani menyediakan papan catur olah raga tua muda

 

Di antara deretan rumah-rumah yang berada di simpang obor Sukatani desa sukadamai kecamatan seibamban kabupaten Serdang Bedagai tersembunyi sebuah warung kecil yang hanya dikenal oleh warga sekitar.

 Atapnya terbuat dari seng tanah yang sudah memudar warnanya, dindingnya bercat putih yang mulai mengelupas, dan di depannya berdiri sebatang pohon jambu yang rindang memberikan naungan yang sejuk di siang hari. Tapi yang paling membuat warung ini istimewa bukanlah arsitekturnya, melainkan sesuatu yang lebih sederhana. pemilik warung tersebut di kenal dengan nama ibu Riani(mama adul) selalu menyediakan papan catur yang siap dimainkan di meja kayu tua yang penuh lekukan.

 Selasa (16/12/2025)


Setiap pagi ibu Riani membersihkan warungnya tertata rapi dan mengeluarkan ampat set papan catur.

Seiring berjalannya waktu, kabar tentang warung yang menyediakan catur ini menyebar perlahan. Mulai dari anak-anak orang dewasa sampai orang tua. 

Pada sore hari, warung ini selalu ramai. Beberapa pasangan sedang bertarung dengan serius, mata mereka terfokus pada papan, jari-jari tertekuk seolah-olah memegang bidak meskipun belum menyentuhnya. Yang lain sedang berbicara ria, tertawa ketika salah satu pemain membuat kesalahan yang lucu, atau memberikan saran yang penuh humor.

Warung Bu Riani juga tersedia menjual makanan dan minuman.

Pecal, mieso, Sornop, impomie, nasi goreng, Indomie goreng, kopi rebus, kopi susu, teh manis panas/ dingin. 

 


Salah satu cerita yang paling menarik perhatian warga adalah ketika seorang pemuda dari kota besar datang ke warung ini.

 Dia adalah pemain catur yang sudah menang di beberapa turnamen lokal, dan ingin menguji kemampuan pemain di daerah pinggiran. Dia bertarung dengan Pak Abdul rahman, yang dianggap sebagai pemain terkuat di warung. Permainan itu berlangsung lama hampir dua jam dengan setiap langkah mereka diikuti oleh semua pengunjung. Akhirnya, Pak Abdul Rahman menang dengan langkah yang sederhana namun cerdas, membuat pemuda itu kaget dan takjub. “Saya belajar banyak dari Anda,” kata pemuda itu sambil menampar bahu Pak Abdul Rahman. Sejak itu dia sering datang ke warung ini untuk berlatih dan berbagi pengetahuan catur.

Catur di warung kecil ini bukan hanya permainan. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang. Anak-anak belajar dari bapak-bapak tua tentang kesabaran dan strategi. Bapak-bapak tua merasa muda lagi ketika bermain dengan anak-anak yang penuh semangat.

 Orang-orang yang dulunya asing, menjadi teman karena berbagi kesukaan yang sama. Bahkan di hari-hari hujan yang dingin, warung ini tetap ramai.

Bu Riani pemilik catur tidak pernah memungut biaya apapun untuk memainkan catur di warungnya. "Ini hadiah untuk warga," katanya. Dia hanya berharap agar warung ini tetap menjadi tempat yang hangat dan penuh kasih, di mana orang-orang dapat bersantai, bermain, dan saling membantu. Dan sampai sekarang, harapan itu terpenuhi  warung kecil yang menyediakan catur ini tetap menjadi hati dari komunitas sekitar, sebuah tempat yang selalu dinanti setiap hari.

(Abdul Salim)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak